Permasalahan Di Bulan Ramadhan ~ Updated

Tanya-Jawab1Bersama: Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Pertanyaan Pertama: 

Ana punya warung makan dan saat ramadhan buka pada pukul 16:30, tapi hanya melayani bungkus (tidak boleh makan di warung) nanti setelah buka puasa baru melayani makan….

Tapi biasa sebelum buka puasa banyak sekali orang mau makan tetapi ana tolak, namun sebagian orang berdalih bahwa mereka orang yg safar, tetapi ana tetap jawab tidak bisa. Sebabnya ana tidak bisa menilai orang ini safar atau tidak, jadi untuk berhati-hati ana jawab “TIDAK BISA TUNGGU WAKTU BERBUKA PUASA”….. Apakah cara ana ini sudah benar? mohon nasehatnya?

Jawab: 

Kalau bisa dipastikan pembeli itu safar maka boleh dilayani, demikian pula jika orang tersebut bisa dipastikan udzur tidak puasa misalnya sakit, wanita haid dan dan nifas maka boleh dilayani. Tetapi jika tidak bisa dipastikan semua itu maka tidak boleh dilayani.
Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberi petunjuk kepada seluruh kaum Muslimin

————————————————————————————————————————————-

Petanyaan Ke Dua:

Setelah sholat tarawih dan witir bolehkah melanjutkan/melakukan sholat lail lagi?

Jawab:

Cukupkan diri dengan tarwih dan witir tersebut.

————————————————————————————————————————————-

Pertanyaan Ke Tiga: 

Apakah melakukan terawih terus menerus di masjid sesuai sunnah?

Jawab:

Tarawih di masjid selama Ramadhan adalan sunnah

————————————————————————————————————————————-

Pertanyaan Ke Empat: 

Seorang suami dalam keadaan musafir. Pulang ke rumahnya pada pagi hari dalam keadaan tidak puasa dan mendapati istrinya tidak puasa juga karena sakit. Akan tetapi si istri sembuh pada saat jam 13.00. Dan suami pun berhubungan suami-istri dalam keadaan tidak berpuasa di bulan ramadhan.

Apakah suami-istri berdosa dan mendapat kafarah?

Jawab:

Insya Allah tidak, menurut pendapat yang dipilih ibnu ‘utsaimin.

[ bisa dilihat masalah ini dalam buku kami “FIKIH PUASA LENGKAP”]

————————————————————————————————————————————-

Pertanyaan Ke Lima: 

Apa hukumnya ketika seorang suami tidak dalam keadaan berpuasa, kemudian dia menyuruh istrinya menyiapkan makanan?

Jawab:

Jika suami tidak udzur maka tidak boleh si istri taawwun memasak dan menyediakan makanan di siang hari bagi suami, kecuali si istri dizholimi oleh suami jika tidak menyediakan makanan maka ini boleh karena dalam keadaan terpaksa.

Jika suaminya udzur untuk puasa maka boleh menyediakan makanan bagi suami.

————————————————————————————————————————————-

Pertanyaan Ke Enam:

Apakah boleh donor darah ketika puasa?

Jawab:

Boleh dan tidak membatalkan puasa, tetapi jika setelah mendonor lantas tidak kuat melanjutkan puasa dan membahayakan dirinya jika dipaksa meneruskan, BOLEH berbuka dan wajib diqadha.

————————————————————————————————————————————-

Pertanyaan Ke Tujuh:

Bismillah, Penyakit seseorang berbeda pada kondisi fisik terkait puasa ramadhan. Ada yang sakit tapi tidak bisa puasa, tapi ada pula yang sakit namun secara fisik bisa puasa. Maka apa yang menjadi tolak ukur adanya rukhshoh seseorang untuk tidak berpuasa ketika sakit?

Jawab:

Jika berpuasa punya efek terhadap kondisinya, sehingga terasa lebih enak jika tidak berpuasa, itu batas minimal dapat rukhshah untuk berbuka. Apalagi jika terasa berat akibat sakitnya, makruh berpuasa. Atau bahkan termudaratkan (tambah sakit atau memperlambat kesembuhan), haram berpuasa. Adapun sakit ringan biasa, seperti sakit gigi, sakit kepala ringan, dan semacamnya yang tidak ada pengaruhnya jika berpuasa, tidak ada rukhshah untuk berbuka. Lihat rinciannya di buku kami Fikih Puasa Lengkap

————————————————————————————————————————————-

Pertanyaan Ke Delapan:

Bismillah,  Ada pertanyaan….fulan ini lalai sehingga ia baru tersadar sekarang bahwa ia masih ada hutang puasa ramadhan tahun lalu 1 hari. Apa yang harus ia lakukan ?

Jawab:

Ketika sadar ia wajib bertobat dari kelalaian itu menunda qadha puasa hingga melewati Ramadhan berikutnya, dan wajib meng-qadhanya selepas bulan Ramadhan.

————————————————————————————————————————————-

Pertanyaan Ke Sembilan:

Bismillah. Setiap bulan ramadhan masjid di pondok kami melaksanakan shalat tarawih setelah shalat isya’. ketika malam ke 21 kami melaksanakan shalat tarawih mulai jam dua karena ingin mendapatkan malam lailatul qadar. Apakah perubahan waktu pelaksanaan shalat tarawih ketika malam ke 21 dengan tujuan tersebut merupakan amalan bid’ah. Jazakumullohu khoiron atas jawabannya ustadz?

Jawab:

Tidak tergolong bid’ah, insya Allah. Shalat malam / tarwih di akhir malam lebih utama daripada di awal malam.

————————————————————————————————————————————-

Pertanyaan Ke Sepuluh:

1. Apakah Ada Hadits yang Shahih yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam terkait dengan QUNUT WITIR yang di KHUSUS kan MULAI MALAM PERTENGAHAN RAMADHAN sampai ber AKHIR nya RAMADHAN ?

2. Apakah di Syari’at Kan MENGANGKAT TANGAN Mengikuti IMAM ?

Jawab:

1. Tidak ada dalil (hadits dari Rasulullah) mengenai pengkhususan qunut witir di setengah terakhir Ramadhan. Hadits yang ada menunjukkan disunnahkan qunut witir kadang-kadang saja, tidak terus menurus

2. Disyariatkan mengangkat kedua tangan pada doa qunut witir. Terdapat atsar dari sebagian sahabat (yaitu Umar bin Khaththab)

————————————————————————————————————————————-

Pertanyaan Ke 11:

Ditempat tinggal ana kalau sholat taraweh selalu diisi ceramah sebelum witir. Pertanyaan:

1.Apakah ana boleh mendengarkan ceramah kemudian sholat witir? 
2.Kalau pulang sebelum witir, apakah sholat tarawehnya sempurna? 

Jawab:

Ceramah yang diadakan antara tarawih dan witir tidak ada kaitannya dengan tarawih dan witir, boleh meninggalkannya lantas datang lagi menyempurnakan tarawihnya dengan witir bersama imam. Apalagi jika yang berceramah adalah da’i-da’i hizbi/mubtadi’/tidak jelas keilmuannya.

————————————————————————————————————————————-

Pertanyaan Ke 12:

1. Apa yang dimakasud bagi orang yang berpuasa satu kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-nya ?

2. Bagaimana dengan puasa yang dikerjakan tidak ikhlas atau tidak menepati sunnah, apakah dia akan mendapatkan kegembiraan juga.

3. Bertemu ketika diakhirat maksudnya ya?

Jawab:

1. Maksudnya kegembiraan karena bertemu Rabbnya dengan membawa ibadah puasa.

2. Yang tidak ikhlas atau tidak menepati sunnah, dalam arti besifat bid’ah, tidak masuk di dalamnya.

3. Ya, di akhirat.

————————————————————————————————————————————-

Pertanyaan Ke 13:

bismillah..  di kampung tempat ana tinggal, pada bulan ramadhan ini jama’ah masjid di tempat ana membludak khususnya wanita, dan masjid tempat ana tidak memakai hijab, dan masjid tersebut banyak anak-anak, yang akhirnya sangat mngganggu kekhusyukan sholat, belum lagi penceramahnya dari tokoh-tokoh sesat dan hizby.

adakah nasehat ustadz,.. apakah ana tetap sholat tarawih di masjid dalam keadaan ikhtilat atau di rumah saja ?

baarokalloohu fykum.

Jawab: 

Adapun ceramah antum bisa hindari dengan cara keluar dari masjid saat orang-orang shalat sunnah. Adapun shalat tarawih jika gangguan anak-anak membuat tidak khusyu’, afdhal shalat tarwih di rumah jika bisa lebih khusyu’. Wallahu a’lam

————————————————————————————————————————————-

1 Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *